Selasa, 17 Oktober 2017

UMSB Bangun Gedung Enam Lantai

Semakin banyaknya bermunculan perguruan tinggi baru dan dibukanya kembali jalur mandiri di universitas negeri, membuat persaingan untuk men­dapatkan mahasiswa baru di peguruan tinggi swasta (PTS) semakin ketat. Menyisiasati hal ini, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) membangun kampus enam lantai di Bukittinggi. Ketua Lembaga Pen­ja­mi­nan Mutu (LPjM) LPjM UMSB, Zulmardi kepada Haluan, Senin (25/7) menga­takan,  gedung perkuliahan enam lantai di Bypass Aur Kuning ini akan menambah fasilitas pendidikan yang dimiliki UMSB. Gedung tersebut nantinya akan di­guna­kan oleh empat fakultas yang ada di Bukittinggi, yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Pariwisata, Fakultas Teknik, dan Fakultas Kesehatan dan MIPA. “Gedung yang meng­habiskan Rp23 miliar itu diperkirakan rampung pada 2017. Pembangunan gedung tersebut diharapkan dapat menambah daya saing UM­SB terhadap perguruan tinggi lain,” ucapnya. Zul pun berharap dengan semakin bagusnya kualitas UMSB, minat tamatan SMA untuk melanjutkan pen­didi­kan perguruan tinggi itu semakin meningkat. “Kami selalu berupaya meningkatkan mutu. UMSB sangat layak, biayanya tidak mahal, kualitasnya kita jamin. Apalagi yang kurang? Di­ban­dingkan perguruan tinggi lain, kita jauh lebih murah. Datang­lah ke kampus ini, tuntut ilmu. Jangan sampai tidak kuliah,” terang Zulmardi. Selanjutnya, dalam hal akreditasi, semua program studi (prodi) di UMSB sudah terakreditasi. Dari 23 prodi, delapan prodi terakreditasi B, delapan prodi dalam proses reakreditasi menjadi B, dan sisanya C. Sementara, untuk akreditasi institusi, UMSB sudah terakreditasi C. “Di antara PTS lainnya, kita termasuk yang pertama mendapat akreditasi, mes­kipun masih C. Sekarang PTS lain banyak yang ke­sulitan mendapatkan akre­ditasi, k­a­lau kita sudah am­an. Yang menentukan kuali­tas suatu perguruan tinggi, yaitu akre­ditasi pro­gram studinya dan akreditasi in­stitusinya,” tambahnya. Sedangkan, dalam hal sarana UMSB terus meleng­kapinya. Menurut Zul, lokal di UMSB sudah memakai media elektronik sesuai per­kem­bangan zaman, seperti proyektor. “Laboratorium sudah dibenahi sebaik mungkin, meski belum lengkap,” lanjut Zul. Wakil Ketua (LPjM) UMSB, Dedi Satria me­nam­bahkan, untuk menghadapi tantangan yang semakin ke­tat, UMSB berupaya mencip­ta­kan diferensiasi, me­mun­cul­kan apa yang menjadi pembedanya dengan uni­versitas lain. Adanya di­ferensiasi ini menjadi jaminan kepada mahasiswa yang ma­suk bahwasanya pilihan yang mereka ambil sudah tepat. “Contoh diferensiasinya, kita mengadakan mata kuliah yang tidak ada di perguruan tinggi lainnya,” jelas Dedi. Selain itu, UMSB juga selalu berupaya me­ning­katkan mutu pendidikannya. Baik itu dalam hal pe­ning­katan ku­alitas SDM dosen, akreditasi, maupun sarana penunjang lainnya. Dari segi kualitasnya, dosen di UMSB tidak ada lagi yang ber­pendidikan S-1. Dari total 164 dosen, semuanya sudah S-2, sedangkan 13 dosen di antaranya sudah S-3. Se­mentara itu, 12 dosen sedang melanjutkan studi S-3.

Info